ASMAT, Seputarpapua.com | Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama Institute of Community Development and Empowerment (ICDp) menggelar Lokakarya Sosialisasi dan Hilirisasi Grand Design Pembangunan Pendidikan (GDPP) Provinsi Papua Selatan Tahun 2025–2045. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Dinas Pendidikan, Jalan Zegward, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, ini dihelat pada Selasa (27/10/2026). Lokakarya tersebut menghadirkan Ketua Tim Penyusun GDPP Provinsi Papua Selatan, Dr. Drs. John Rahail, M.Kes., beserta jajarannya. Peserta kegiatan terdiri atas unsur organisasi perangkat daerah (OPD), jajaran Dinas Pendidikan, tokoh adat, serta para guru. Asisten III Bidang Administrasi dan Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Asmat, Riechard Mirino mewakili Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi utama dalam menentukan masa depan daerah dan generasi penerus. Menurutnya, kemajuan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, melainkan dari peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang sehat, cerdas, berkarakter, produktif, dan berdaya saing. “Bagi Kabupaten Asmat, pendidikan memiliki makna yang sangat strategis. Pendidikan bukan sekadar upaya meningkatkan angka partisipasi sekolah dan capaian akademik, tetapi juga jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan, mengurangi ketertinggalan, memperkuat identitas budaya, serta mempersiapkan anak-anak Asmat sebagai pelaku utama pembangunan,” ujar Riechard. Ia menilai, GDPP Provinsi Papua Selatan 2025–2045 merupakan arah kebijakan jangka panjang yang krusial untuk mewujudkan pembangunan pendidikan yang merata, afirmatif, inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan. Di sisi lain, Riechard memaparkan bahwa Kabupaten Asmat memiliki karakteristik wilayah dan tantangan geografis yang unik. Didominasi dataran rendah, rawa, sungai, serta kawasan pesisir dengan kampung-kampung yang terpencar, akses transportasi di Asmat sebagian besar masih bergantung pada jalur sungai dan laut. Kondisi ini berdampak langsung terhadap keterjangkauan sekolah, biaya transportasi, distribusi serta kehadiran guru, ketersediaan sarana-prasarana, hingga keberlanjutan proses pembelajaran. Masih rendahnya capaian pendidikan, tingginya angka anak tidak sekolah, keterbatasan tenaga pendidik, serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat menuntut adanya kebijakan dan pendekatan khusus. “Karena itu, kemajuan pendidikan Asmat tidak boleh hanya diukur dari perkembangan sekolah-sekolah di Agats dan pusat distrik, tetapi terutama dari kemampuan kita menghadirkan guru, sekolah, dan layanan pendidikan yang bermutu hingga ke kampung-kampung terpencil,” tegasnya. Pihaknya juga menekankan pentingnya mengintegrasikan kekayaan budaya masyarakat Asmat seperti nilai kebersamaan, musyawarah, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif yang hidup dalam kelembagaan adat Jew—ke dalam sistem pendidikan. Sekolah harus menjadi bagian yang menyatu dengan lingkungan sosial dan budayanya. Melalui lokakarya ini, pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan diharapkan mampu mengidentifikasi kesenjangan pelayanan antardistrik dan antarkampung, menetapkan wilayah serta kelompok sasaran prioritas, serta merumuskan intervensi yang realistis dan terukur. Perhatian khusus perlu diarahkan pada penguatan sekolah kampung, pengembangan sekolah satu atap, layanan pendidikan berpola asrama maupun sekolah bergerak sesuai kebutuhan wilayah, pemerataan serta pengawasan kehadiran guru, penyediaan transportasi pendidikan, serta penguatan pendidikan nonformal bagi anak-anak yang belum atau tidak lagi bersekolah. Sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, lembaga keagamaan, perempuan, dan pemuda juga harus terus diperkuat. “Kita ingin memastikan tidak ada anak Asmat yang kehilangan hak memperoleh pendidikan hanya karena tempat tinggalnya jauh, transportasi sulit, ekonomi keluarga terbatas, atau pelayanan pendidikan belum menjangkau kampungnya,” ucap Riechard. Ia berharap pembangunan pendidikan ini kelak melahirkan generasi Asmat yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki keterampilan untuk membangun daerahnya, serta tetap bangga terhadap budaya dan jati diri sebagai Orang Asli Papua. “Keberhasilan lokakarya ini harus dapat kita ukur dari perubahan nyata dalam pelayanan pendidikan, terutama meningkatnya akses sekolah, kehadiran guru, partisipasi masyarakat, dan kualitas pembelajaran anak-anak Asmat,” pungkasnya. Reporter : Elgo Wohel editor : Iba
0 Comments
Leave a Reply. |

RSS Feed