ASMAT, Seputarpapua.com | Pemerintah Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, menggelar kegiatan analisis situasi dalam rangka pelaksanaan Aksi Konvergensi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Woroucem Kesbangpol, Kabupaten Asmat, pada Senin (2/2/2026). Asisten III Bidang Administrasi dan Umum Setda Kabupaten Asmat, Riechard Mirino, yang mewakili Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo, dalam sambutannya menyampaikan bahwa konvergensi stunting merupakan salah satu pendekatan strategis dalam percepatan penurunan stunting. Menurutnya, konvergensi stunting adalah upaya menyelaraskan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan pengendalian kegiatan lintas sektor serta antar tingkat pemerintahan dan masyarakat secara terkoordinasi, terpadu, dan berkelanjutan. Upaya ini difokuskan pada sasaran prioritas, yakni ibu hamil, ibu nifas, ibu menyusui, anak baduta, anak balita, remaja putri, calon pengantin, rumah tangga, dan masyarakat. “Melalui analisis situasi ini, kita dapat mengidentifikasi permasalahan, tantangan, serta peluang dalam upaya pencegahan stunting. Selain itu, koordinasi dan kerja sama antar-stakeholder juga dapat semakin diperkuat untuk mencapai target penurunan stunting,” kata Riechard Mirino.. Ia menjelaskan, kegiatan analisis situasi meliputi identifikasi sebaran data stunting, data sasaran, data cakupan layanan, serta data pendukung dari distrik dan puskesmas. Selain itu, juga dilakukan identifikasi kendala, penyusunan rekomendasi, serta usulan kegiatan program dalam pelaksanaan integrasi intervensi sebagai upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Asmat. Sementara itu, narasumber dari Tenaga Ahli Bangda Kementerian Dalam Negeri Regional V, Besse Kutti, menyampaikan bahwa memasuki tahun kedua pelaksanaan aksi konvergensi, kegiatan analisis situasi menjadi sangat strategis. Hal ini karena tidak lagi berhenti pada tahap perencanaan, tetapi mulai memastikan ketepatan sasaran, kualitas intervensi, serta keterpaduan peran lintas sektor. “Dengan demikian, program benar-benar menjangkau kelompok sasaran utama, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, baduta, balita, remaja putri, calon pengantin, rumah tangga, dan masyarakat, sehingga pencegahan stunting dapat dilakukan dari hulu hingga hilir,” jelas Besse Kutti. Ia menegaskan bahwa keberhasilan percepatan penurunan stunting sangat ditentukan oleh peran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pengampu. Setiap OPD diharapkan menjalankan intervensi secara terintegrasi, baik intervensi gizi spesifik, gizi sensitif, maupun intervensi pendukung lainnya. “Tidak boleh lagi ada program yang berjalan sendiri-sendiri. Semua harus saling menguatkan dalam satu tujuan bersama, yaitu menurunkan angka stunting di Kabupaten Asmat,” pungkasnya. Reporter : Elgo Wohel editor : Iba
0 Comments
Leave a Reply. |

RSS Feed