Antisipasi Dampak Kabut Asap, Bupati Asmat Siapkan Tim Kesehatan Selama Festival Asmat Pokman ke-3810/12/2026 ASMAT, PL — Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo menyoroti Dampak kabut asap akibat dari pembakaran hutan yang sungguh amat sangat mengganggu pelaksanaan Festival Asmat Pokman (FAP) ke-38. Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, saat melakukan pertemuan bersama para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Aula Kantor Bakesbangpol Kabupaten Asmat, Selasa (6/10/2026). Bupati Thomas mengatakan, kabut asap yang pekat telah berdampak terhadap aktivitas penerbangan, sehinga banyak tamu sekarang yang harusnya hari ini suda berada di Asmat tertunda karena pesawat tidak bisa mendarat di Timika tadi pagi. Mungkin baru bisa siang, itu pun belum pasti masih tentatif. “Banyak tamu-tamu akhirnya juga tertunda dan menumpuk di Timika. Kita berharap ini bisa segera teratasi, terutama di Papua Selatan karena sumber pembakaran hutan itu terjadi di sana,” kata Bupati Thomas. Thomas menambahkan, kemarin itu bahkan, pesawat Wings Air harus melakukan dua kali flight untuk mengangkut penumpang hari Minggu dan juga hari Senin itu akibat dari kabut asap. Ia menjelaskan, jarak pandang yang sangat pendek dan itu mengganggu keselamatan penerbangan. Ini yang mungkin nanti akan mempengaruhi pelaksanaan festival ini secara keseluruhan. Bupati Thomas mengatakan, apabila gangguan penerbangan ini terjadi secara terus-menerus pasti banyak tamu juga akan batal ke sini karena ini menyangkut keselamatan. Selain mengantisipasi dampak terhadap penerbangan, Pemkab Asmat juga mulai menyiapkan langkah antisipasi terhadap dampak kesehatan akibat paparan kabut asap, khususnya kemungkinan munculnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “Kita segera siapkan dalam waktu dekat tim kesehatannya, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan timbulnya ISPA, Infeksi Saluran Pernapasan ini akibat dari asap kabut yang begitu pekat,” kata Thomas Safanpo. “Nanti kita segera koordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan dan teman-teman di RSUD RSUD Perpetua J. Safanfo untuk siapkan tim,” pungkasnya.(Redaksi)
0 Comments
ASMAT, Seputarpapua.com | Pemerintah Kabupaten Asmat menggelar Festival Seni Kreasi Beworpits dan Teweraut (Berter) Ke-XVI tahun 2026, sebagai upaya dalam rangka melestarikan dan mempromosikan Kebudayaan Asmat sebagai warisan budaya dunia, Senin (28/9/2026). Festival yang berlangsung selama tiga hari (28-31 September 2026), dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Asmat, Yoel Manggaprou didampingi Wakil Ketua TP-PKK Asmat Delvi Tiku Lembang Manggaprou, di Gedung Amphi Teater, Jalan Museum, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Wakil Bupati Asmat, Yoel Manggaprou, dalam sambutanya mengatakan Kabupaten Asmat dikenal sebagai salah satu pusat budaya di Tanah Papua yang memiliki kekayaan seni ukir, tarian tradisional, musik rakyat, serta ekspresi budaya yang unik dan bernilai tinggi. Menurutnya, dalam perkembangan zaman yang semakin modern, generasi muda menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi. “Festival Seni Kreasi Beworpits dan Teweraut yang disingkat Berter ini, merupakan salah satu wadah strategis pemerintah daerah yang setiap tahun dilaksanakan dengan tujuan untuk melestarikan, mengembangkan serta mempromosikan seni budaya Asmat kepada generasi muda, khususnya para pelajar dan masyarakat umum,” ujar Yoel. Ia berharap kegiatan festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang edukasi, ekspresi dan apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal. “Melalui kegiatan ini diharapkan, terjadi transfer pengetahuan budaya dari generasi ke generasi, sekaligus meningkatkan rasa cinta tanah air, identitas budaya, serta kreativitas peserta dalam mengembangkan seni berbasis kearifan lokal,” kata Wabup Yoel. Sementara itu, Ketua Panitia Festival, Jimmy Apas, menyampaikan bahwa pada tahun ini panitia mengangkat tema besar, yaitu “Senandung tifa dari Asmat, tumbuhkan kreatifitas untuk pembangunan pariwisata Indonesia.” Ia menjelaskan, tema tersebut mengandung makna bahwa “Senandung Tifa dari Asmat” adalah detak jantung dan napas kehidupan budaya Asmat. Dari bunyi Tifa itulah, lahir jiwa kegagahan Beworpits dan kelembutan Teweraut. Melalui tema tersebut, kita ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya Asmat, melalui bunyi Tifa harus menjadi sumber untuk menumbuhkan kreatifitas generasi muda Asmat yang pada akhirnya menjadi modal utama dalam pembangunan pariwisata Indonesia yang berakar pada budaya lokal. Ia mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan dan meregenerasi nilai-budaya Asmat Beworpits dan Teweraut kepada generasi muda Asmat. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kreatifitas, rasa percaya diri, dan cinta budaya pada pelajar SMP, SMA dan SMK. Festival Seni Kreasi Beworpits dan Teweraut Ke-XVI tahun 2026 diikuti sebanyak 10 kontingen terdiri dari empat kontingen tingkat SMP dan enam kontingen tingkat SMA/SMK. Untuk tingkat SMP, peserta berasal dari SMP Negeri 1 Akat, dari Distrik Akat, SMP YPPK Agats, SMP Negeri Mbait, SMP Negeri 2 Agats. Sementara tingkat SMA/SMK diikuti SMA Negeri 1 Agats, SMA Negeri 1 Atsj, Distrik Atsj, SMA Yan Smit Agats, SMA YPPGI Agats, SMA Negeri 1 Agats dan SMAK Seminari Agats. Dalam festival seni kreasi Beworpits dan Teweraut pada tahun 2026, terdapat tujuh jenis mata lomba yang dipertandingkan, yakni: 1. Lomba Fashion Show Pesona Beworpits 2.Lomba Mengukir 2. Lomba tari kreasi 3. Lomba Balada Cenderawsih 4. Lomba Sosio Drama 5. Lomba Pop Song ( nyanyi trio) 6. Lomba Folk Song (Musik Rakyat). Reporter : Elgo Wohel editor : Dhias Suwandi ASMAT, Seputarpapua.com | Pemerintah Kabupaten Asmat menggelar Festival Seni Kreasi Beworpits dan Teweraut (Berter) Ke-XVI tahun 2026, sebagai upaya dalam rangka melestarikan dan mempromosikan Kebudayaan Asmat sebagai warisan budaya dunia, Senin (28/9/2026). Festival yang berlangsung selama tiga hari (28-31 September 2026), dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Asmat, Yoel Manggaprou didampingi Wakil Ketua TP-PKK Asmat Delvi Tiku Lembang Manggaprou, di Gedung Amphi Teater, Jalan Museum, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Wakil Bupati Asmat, Yoel Manggaprou, dalam sambutanya mengatakan Kabupaten Asmat dikenal sebagai salah satu pusat budaya di Tanah Papua yang memiliki kekayaan seni ukir, tarian tradisional, musik rakyat, serta ekspresi budaya yang unik dan bernilai tinggi. Menurutnya, dalam perkembangan zaman yang semakin modern, generasi muda menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi. “Festival Seni Kreasi Beworpits dan Teweraut yang disingkat Berter ini, merupakan salah satu wadah strategis pemerintah daerah yang setiap tahun dilaksanakan dengan tujuan untuk melestarikan, mengembangkan serta mempromosikan seni budaya Asmat kepada generasi muda, khususnya para pelajar dan masyarakat umum,” ujar Yoel. Ia berharap kegiatan festival ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang edukasi, ekspresi dan apresiasi terhadap nilai-nilai budaya lokal. Melalui kegiatan ini diharapkan, terjadi transfer pengetahuan budaya dari generasi ke generasi, sekaligus meningkatkan rasa cinta tanah air, identitas budaya, serta kreativitas peserta dalam mengembangkan seni berbasis kearifan lokal,” kata Wabup Yoel. Sementara itu, Ketua Panitia Festival, Jimmy Apas, menyampaikan bahwa pada tahun ini panitia mengangkat tema besar, yaitu “Senandung tifa dari Asmat, tumbuhkan kreatifitas untuk pembangunan pariwisata Indonesia.” Ia menjelaskan, tema tersebut mengandung makna bahwa “Senandung Tifa dari Asmat” adalah detak jantung dan napas kehidupan budaya Asmat. Dari bunyi Tifa itulah, lahir jiwa kegagahan Beworpits dan kelembutan Teweraut. Melalui tema tersebut, kita ingin menegaskan bahwa pelestarian budaya Asmat, melalui bunyi Tifa harus menjadi sumber untuk menumbuhkan kreatifitas generasi muda Asmat yang pada akhirnya menjadi modal utama dalam pembangunan pariwisata Indonesia yang berakar pada budaya lokal. Ia mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan dan meregenerasi nilai-budaya Asmat Beworpits dan Teweraut kepada generasi muda Asmat. Selain itu, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kreatifitas, rasa percaya diri, dan cinta budaya pada pelajar SMP, SMA dan SMK. Festival Seni Kreasi Beworpits dan Teweraut Ke-XVI tahun 2026 diikuti sebanyak 10 kontingen terdiri dari empat kontingen tingkat SMP dan enam kontingen tingkat SMA/SMK. Untuk tingkat SMP, peserta berasal dari SMP Negeri 1 Akat, dari Distrik Akat, SMP YPPK Agats, SMP Negeri Mbait, SMP Negeri 2 Agats. Sementara tingkat SMA/SMK diikuti SMA Negeri 1 Agats, SMA Negeri 1 Atsj, Distrik Atsj, SMA Yan Smit Agats, SMA YPPGI Agats, SMA Negeri 1 Agats dan SMAK Seminari Agats. Dalam festival seni kreasi Beworpits dan Teweraut pada tahun 2026, terdapat tujuh jenis mata lomba yang dipertandingkan, yakni: 1. Lomba Fashion Show Pesona Beworpits 2.Lomba Mengukir 2. Lomba tari kreasi 3. Lomba Balada Cenderawsih 4. Lomba Sosio Drama 5. Lomba Pop Song ( nyanyi trio) 6. Lomba Folk Song (Musik Rakyat). Reporter : Elgo Wohel editor : Dhias Suwandi |



RSS Feed