AGATS, Seputarpapua.com | Festival Asmat Pokman ke-38 resmi ditutup di Lapangan Yos Sudarso Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Sabtu (10/10/2026). Penutupan pergelaran karya seni dan budaya tahunan ini mencatatkan nilai lelang menembus angka Rp3,405 miliar dari penjualan 213 ukiran dan 83 anyaman karya seniman lokal. Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran dan kesuksesan festival di tengah berbagai hambatan dan tantangan. ”Kita menyelenggarakan festival ini di tengah dua bencana. Pertama, bencana kemarau panjang yang membuat kita kekurangan air. Kedua, bencana pembakaran hutan di wilayah Papua Selatan,” ujar Thomas dalam sambutannya. Thomas secara khusus menyoroti kontribusi para Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), hingga tenaga honorer dan kontrak yang aktif bertransaksi untuk menstimulasi ekonomi kreatif warga Asmat. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada jajaran TNI-Polri atas dukungan keamanan selama acara berlangsung. Menurut Thomas, perputaran uang senilai Rp3,4 miliar tersebut memberikan dampak signifikan bagi perekonomian lokal yang sempat lesu akibat penyesuaian anggaran. ”Capaian ini luar biasa dan sangat membantu menggerakkan perekonomian daerah yang sempat melambat akibat kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat,” tuturnya. Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Asmat berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian budaya yang selama ini dirintis dan dirawat oleh gereja serta masyarakat adat Asmat. Reporter : Elgo Wohel editor : Iba
0 Comments
AGATS, Seputarpapua.com | Festival Asmat Pokman (FAP) ke-38 resmi dibuka oleh Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo di Lapangan Yos Sudarso, Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Rabu (7/10/2026). Pembukaan ajang tahunan ini dihadiri oleh Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito, O.F.M., Ketua Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Kabupaten Asmat David Jimanipits, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Berlangsung hingga 10 Oktober 2026, festival ini mengusung tema “Mengukir Warisan Asmat, Merajut Ekonomi Kreatif.” Dalam sambutannya, Bupati Thomas Eppe Safanpo mengungkapkan bahwa FAP ke-38 ini sejatinya dijadwalkan pada 2025 namun sempat tertunda. Kendati demikian, berbagai kendala seperti bencana kabut asap akibat kebakaran lahan di Papua Selatan serta efisiensi anggaran dari pemerintah pusat tidak menyurutkan niat Keuskupan, pemerintah dan masyarakat untuk tetap menggelar acara sesuai jadwal. “Hari ini sejumlah tamu dari luar Asmat, seperti dari Jakarta dan Jayapura, masih tertahan di Timika, termasuk Anggota DPD RI Rudy Tirtayana. Rencana kedatangan Gubernur Papua Barat Daya Bapak Elisa Kambu dan rombongan juga masih dikoordinasikan,” ujar Bupati Thomas. Ia menegaskan, di tengah tantangan ekonomi dan efisiensi anggaran yang berdampak pada sektor swasta serta daya beli masyarakat dalam dua tahun terakhir, Pemkab Asmat bersama Keuskupan Agats dan seluruh mitra tetap berkomitmen menyukseskan festival ini. Bupati Thomas juga mengenang sejarah lahirnya kegiatan ini. Menurutnya, FAP yang awalnya merupakan lomba ukir tradisional telah bertransformasi menjadi pesta budaya berkat inisiatif gereja. Upaya ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga, merawat, dan mewariskan seni ukir Asmat dari generasi ke generasi agar tidak tergerus zaman. Sejak Asmat menjadi kabupaten definitif pada 2005 di bawah kepemimpinan Yuvensius A. Biakai, dilanjutkan Elisa Kambu, hingga masa kepemimpinannya saat ini, pemerintah daerah selalu mendukung penuh pelestarian budaya tersebut. “Seni ukir tidak boleh hilang. Ini adalah identitas budaya kita, jati diri kita. Gereja telah berupaya bersungguh-sungguh untuk menjaga, merawat, dan mewariskan kebudayaan Asmat,” tegas Bupati Thomas. Sementara itu, Ketua Panitia FAP ke-38, Innocentius Rettobjaan, menjelaskan bahwa berdasarkan arah kebijakan tahun ini, festival difokuskan kembali untuk memperkuat seni ukir sebagai tradisi dan identitas budaya suku Asmat. Selain pameran seni budaya, acara ini juga diramaikan oleh stan UMKM, kegiatan edukasi, pariwisata, dan berbagai agenda non-kompetisi yang melibatkan masyarakat luas. Sebelum puncak acara, panitia telah melaksanakan seleksi ketat karya ukiran dan anyaman di sembilan titik di wilayah Kabupaten Asmat pada 3–18 Agustus 2026. Dari proses tersebut, tercatat sebanyak 219 pengukir dan 86 penganyam dinyatakan lolos seleksi. Innocentius menambahkan, tingginya antusiasme peserta menunjukkan kuatnya akar budaya di tengah masyarakat. Seleksi ini sekaligus memastikan bahwa Festival Asmat Pokman tetap menjaga keaslian karya, karakteristik wilayah, serta etika dalam berkarya. Selama empat hari ke depan, rangkaian kegiatan dirancang untuk memadukan unsur budaya, pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan promosi daerah secara terpadu. Reporter : Elgo Wohel editor : Aditra ASMAT, Seputarpapua.com | Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, mengajak seluruh pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) beserta jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asmat untuk berpartisipasi aktif dalam Festival Asmat Pokman (FAP) ke-38 yang digelar pada 7–10 Oktober 2026.Ajakan tersebut disampaikan Bupati Thomas saat menyerahkan Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran (DPPA) OPD Tahun Anggaran 2026 di Aula Woroucem Bakesbangpol Kabupaten Asmat, Selasa (6/10). Dalam arahannya, Bupati Thomas meminta para pimpinan OPD segera menginstruksikan bendahara untuk mempercepat proses pencairan anggaran guna mendukung partisipasi dalam festival tersebut. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) juga diminta untuk membantu mempercepat proses administrasinya. Bupati Thomas menegaskan agar pimpinan OPD memastikan anggaran yang tersedia dialokasikan untuk mengikuti kegiatan pelelangan karya seni dalam festival. Khusus bagi pimpinan OPD yang memiliki kegiatan belanja modal, diminta untuk mengimbau para rekanan (kontraktor/mitra kerja) agar turut berpartisipasi dalam proses pelelangan. Bupati Thomas juga mendorong jajaran ASN di setiap OPD untuk ambil bagian dalam perhelatan budaya ini sesuai kemampuan masing-masing. ”Bagi yang punya kelebihan berkat sedikit, bisa berpartisipasi untuk ikut belanja-belanja. Kalau tidak bisa ikut lelang, ya mungkin ikut belanja ukiran atau anyaman yang dijual di sekitar area festival,” ujar Bupati Thomas. Festival Asmat Pokman ke-38 ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian lokal melalui transaksi seni ukir dan anyaman khas Asmat. Reporter : Elgo Wohel editor : Iba |



RSS Feed